Filosofi makna geguritan jawa “Gegaraning
Wong Akrami”
“Gegaraning wong
akrami”
Amung ati
pawitane
Luput pisan kena
pisan
Yen gampang
luwih gampang
Yen angel, angel
kalangkung
Tan kena
tinumbas arta”.
Terjemahan
dalam bahasa Indonesia dari tembang tersebut adalah sebagai berikut :
“Modal orang
membangun rumah tangga
Bukan harta
bukan rupa
Hanya hati
bekalnya
Gagal sekali,
berhasil juga sekali
Jika mudah maka
terasa sangat mudah
Jika susah maka
terasa sangat susah
Tidak bisa dibeli dengan uang”.
Gegaraning wong
akrami ” bisa dipahami sebagai
modal utama atau bekal untuk membangun kehidupan rumah tangga.“Dudu bandha dudu
rupa”, bukan harta bukan pula wajah atau penampilan. Jangan sampai memilih
jodoh hanya mengandalkan kecantikan wajah, ketampanan, kekayaan, harta benda,
penampilan yang menarik, tubuh yang seksi, otot yang kekar, mobil mewah, rumah
megah, jabatan tinggi, posisi penting, pangkat yang hebat, dan lain sebagainya.
Pertimbangan yang sifatnya fisik atau materi.
“Amung ati
pawitane”, hanya hati bekalnya. Sejak memilih calon pendamping hidup, hendaknya
membekali diri dengan hati yang bersih.Jangan terkotori oleh syahwat dan
kesenangan sesaat, hingga melupakan sisi martabat.Keputusan menikah hendaknya
diambil dengan niat yang tulus, motivasi yang lurus, tekat yang kuat, yang
semuanya itu bersemayam di dalam hati. Melaksanakan prosesi pernikahan dengan
hati yang bersih, akan menjadi landasan yang kokoh dalam membangun kebahagiaan
hidup berumah tangga.
Hidup berumah tangga itu sifatnya “yen gampang luwih
gampang”, jika mudah, terasa sedemikian mudah.“Gampang” itu artinya
mudah.Melewati hari-hari dalam kehidupan berumah tangga, kadang terasa
sedemikian mudah.Semua persoalan mudah diselesaikan, semua konflik mudah
diredam, semua perselisihan
mudah didamaikan. Kadang suami dan istri terlibat konflik dan pertengkaran,
namun jika keduanya memiliki modal berupa hati yang bersih, akan mudah mengalah
dan mudah meminta maaf kepada pasangan. Kedua belah pihak justru berlomba untuk
mendahului mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada pasangan.
Mereka tidak
perlu banyak bertanya “ini salah siapa”.Mereka tidak mudah menuduh pasangannya
“ini kan salah kamu semua”.Mereka berdua tidak gengsi untuk mengakui kesalahan,
tidak malu untuk meminta maaf, tidak sulit untuk memaafkan kesalahan
pasangan.Itu bermula dari kondisi hati yang bersih.
Sebaliknya, “yen
angel, angel kalangkung”, jika sulit rasanya sedemikian sulit. “Angel” itu
artinya sulit, sukar atau susah. Ketika tengah dilanda masalah, tidak ada yang
mau mengalah, semua merasa benar dan bersikap menyalahkan pasangan.Keduanya
bersikap menuntut dari pasangan, dan tidak memulai kebaikan dari dirinya
sendiri.Hati mudah diliputi benci dan dendam, hati mudah terbakar emosi.Setiap
pembicaraan selalu berujung kepada salah paham, dan akhirnya meledaklah
kemarahan.Setiap saat suami dan istri berada dalam suasana yang tidak nyaman.
Ketika berada
dalam situasi seperti itu, artinya hati sudah tidak bersih lagi.Kondisinya
sangat sensitif, mudah terbakar, mudah tersulut, mudah terkuasai emosi.
Komunikasi sudah tidak akan bisa berjalan dengan efektif, karena semua berusaha
memenangkan ego diri. Sekali masuk dalam situasi sulit seperti ini, rasanya
akan terus bertambah sulit. Setiap permasalahan sulit menemukan jalan
pemecahan.Setiap konflik, tidak mudah berdamai.Ini semua karena tidak memiliki
hati yang bersih sebagai modal utama membangun kehidupan berumah tangga.
Kebahagiaan hidup berumah tangga itu “tan kena tinumbas arta”, tidak bisa dibeli dengan uang atau harta. Mudah atau susah, semua kembali kepada kondisi hati suami dan istri. Bukan karena kekayaan materi.Jika mau dibuat mudah, maka semua persoalan hidup berumah tangga bisa dijalani dengan mudah. Jika mau dibuat susah, maka semuanya akan selalu bertambah susah. Tidak ada persoalan hidup yang tidak bisa diselesaikan, selama suami dan istri itu mau menyelesaikannya.Yang membuat masalah menjadi mudah, ya mereka berdua. Yang membuat masalah menjadi susah, ya mereka berdua.
Perasaan cinta
suami kepada istri tidak akan bisa dibeli dengan harta kekayaan, “tan kena
tinumbas arta”. Perasaan cinta istri kepada suami tidak akan bisa dibeli dengan
harta kekayaan, “tan kena tinumbas arta”. Kesetiaan suami dan istri tidak akan
bisa dibeli dengan harta kekayaan, “tan kena tinumbas arta”. Kekompakan suami
istri tidak akan bisa dibeli dengan harta kekayaan, “tan kena tinumbas arta”.
Keberkahan hidup berumah tangga tidak akan bisa dibeli dengan harta kekayaan,
“tan kena tinumbas arta”. Kebaikan dan kesalihan anak-anak tidak akan bisa
dibeli dengan harta kekayaan, “tan kena tinumbas arta”.
Semua
berpulang kepada suami dan istri itu sendiri, akan dibawa kemana biduk keluarga
mereka bawa, akan menjadi seperti apa keluarga yang mereka bina. Kembalilah
kepada kebersihan hati, sebagai modal utama hidup berumah tangga. Dengan hati
yang bersih, keluarga akan mudah menggapai kebahagiaan, mudah menggapai
keberkahan, mudah menggapai kondisi sakinah mawaddah wa rahmah.
salam tim Ambalat GP dan tim Bunderan GP
Maret - April 2018 GP tambsel BKS














Tidak ada komentar:
Posting Komentar