Rabu, 11 April 2018

geguritan jawa “Gegaraning Wong Akrami”

Filosofi makna geguritan jawa “Gegaraning Wong Akrami”
“Gegaraning wong akrami”

Dudu bandha dudu rupa
Amung ati pawitane
Luput pisan kena pisan
Yen gampang luwih gampang
Yen angel, angel kalangkung
Tan kena tinumbas arta”.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia dari tembang tersebut adalah sebagai berikut :
“Modal orang membangun rumah tangga
Bukan harta bukan rupa
Hanya hati bekalnya
Gagal sekali, berhasil juga sekali
Jika mudah maka terasa sangat mudah
Jika susah maka terasa sangat susah
Tidak bisa dibeli dengan uang”.

Gegaraning wong akrami ” bisa dipahami sebagai modal utama atau bekal untuk membangun kehidupan rumah tangga.“Dudu bandha dudu rupa”, bukan harta bukan pula wajah atau penampilan. Jangan sampai memilih jodoh hanya mengandalkan kecantikan wajah, ketampanan, kekayaan, harta benda, penampilan yang menarik, tubuh yang seksi, otot yang kekar, mobil mewah, rumah megah, jabatan tinggi, posisi penting, pangkat yang hebat, dan lain sebagainya. Pertimbangan yang sifatnya fisik atau materi.

“Amung ati pawitane”, hanya hati bekalnya. Sejak memilih calon pendamping hidup, hendaknya membekali diri dengan hati yang bersih.Jangan terkotori oleh syahwat dan kesenangan sesaat, hingga melupakan sisi martabat.Keputusan menikah hendaknya diambil dengan niat yang tulus, motivasi yang lurus, tekat yang kuat, yang semuanya itu bersemayam di dalam hati. Melaksanakan prosesi pernikahan dengan hati yang bersih, akan menjadi landasan yang kokoh dalam membangun kebahagiaan hidup berumah tangga.

Hidup berumah tangga itu sifatnya “yen gampang luwih gampang”, jika mudah, terasa sedemikian mudah.“Gampang” itu artinya mudah.Melewati hari-hari dalam kehidupan berumah tangga, kadang terasa sedemikian mudah.Semua persoalan mudah diselesaikan, semua konflik mudah diredam, semua perselisihan mudah didamaikan. Kadang suami dan istri terlibat konflik dan pertengkaran, namun jika keduanya memiliki modal berupa hati yang bersih, akan mudah mengalah dan mudah meminta maaf kepada pasangan. Kedua belah pihak justru berlomba untuk mendahului mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada pasangan.

Mereka tidak perlu banyak bertanya “ini salah siapa”.Mereka tidak mudah menuduh pasangannya “ini kan salah kamu semua”.Mereka berdua tidak gengsi untuk mengakui kesalahan, tidak malu untuk meminta maaf, tidak sulit untuk memaafkan kesalahan pasangan.Itu bermula dari kondisi hati yang bersih.

Sebaliknya, “yen angel, angel kalangkung”, jika sulit rasanya sedemikian sulit. “Angel” itu artinya sulit, sukar atau susah. Ketika tengah dilanda masalah, tidak ada yang mau mengalah, semua merasa benar dan bersikap menyalahkan pasangan.Keduanya bersikap menuntut dari pasangan, dan tidak memulai kebaikan dari dirinya sendiri.Hati mudah diliputi benci dan dendam, hati mudah terbakar emosi.Setiap pembicaraan selalu berujung kepada salah paham, dan akhirnya meledaklah kemarahan.Setiap saat suami dan istri berada dalam suasana yang tidak nyaman.


Ketika berada dalam situasi seperti itu, artinya hati sudah tidak bersih lagi.Kondisinya sangat sensitif, mudah terbakar, mudah tersulut, mudah terkuasai emosi. Komunikasi sudah tidak akan bisa berjalan dengan efektif, karena semua berusaha memenangkan ego diri. Sekali masuk dalam situasi sulit seperti ini, rasanya akan terus bertambah sulit. Setiap permasalahan sulit menemukan jalan pemecahan.Setiap konflik, tidak mudah berdamai.Ini semua karena tidak memiliki hati yang bersih sebagai modal utama membangun kehidupan berumah tangga.

Kebahagiaan hidup berumah tangga itu “tan kena tinumbas arta”, tidak bisa dibeli dengan uang atau harta. Mudah atau susah, semua kembali kepada kondisi hati suami dan istri. Bukan karena kekayaan materi.Jika mau dibuat mudah, maka semua persoalan hidup berumah tangga bisa dijalani dengan mudah. Jika mau dibuat susah, maka semuanya akan selalu bertambah susah. Tidak ada persoalan hidup yang tidak bisa diselesaikan, selama suami dan istri itu mau menyelesaikannya.Yang membuat masalah menjadi mudah, ya mereka berdua. Yang membuat masalah menjadi susah, ya mereka berdua.

Kebahagiaan hidup berumah tangga tidak akan bisa dibeli dengan harta kekayaan, “tan kena tinumbas arta”. Kemudahan dalam menyelesaikan persoalan keluarga tidak akan bisa dibeli dengan harta kekayaan, “tan kena tinumbas arta”. Ketenangan, kedamaian, kenyamanan hidup berumah tangga tidak akan bisa dibeli dengan harta kekayaan, “tan kena tinumbas arta”. Suasana sakinah, mawaddah wa rahmah tidak akan bisa dibeli dengan harta kekayaan, “tan kena tinumbas arta”. Kekokohan dan ketahanan keluarga tidak akan bisa dibeli dengan harta kekayaan, “tan kena tinumbas arta”.
Perasaan cinta suami kepada istri tidak akan bisa dibeli dengan harta kekayaan, “tan kena tinumbas arta”. Perasaan cinta istri kepada suami tidak akan bisa dibeli dengan harta kekayaan, “tan kena tinumbas arta”. Kesetiaan suami dan istri tidak akan bisa dibeli dengan harta kekayaan, “tan kena tinumbas arta”. Kekompakan suami istri tidak akan bisa dibeli dengan harta kekayaan, “tan kena tinumbas arta”. Keberkahan hidup berumah tangga tidak akan bisa dibeli dengan harta kekayaan, “tan kena tinumbas arta”. Kebaikan dan kesalihan anak-anak tidak akan bisa dibeli dengan harta kekayaan, “tan kena tinumbas arta”.

Semua berpulang kepada suami dan istri itu sendiri, akan dibawa kemana biduk keluarga mereka bawa, akan menjadi seperti apa keluarga yang mereka bina. Kembalilah kepada kebersihan hati, sebagai modal utama hidup berumah tangga. Dengan hati yang bersih, keluarga akan mudah menggapai kebahagiaan, mudah menggapai keberkahan, mudah menggapai kondisi sakinah mawaddah wa rahmah.

salam tim Ambalat GP dan tim Bunderan GP
































































Maret - April 2018 GP tambsel BKS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar